“You can always find great ideas from the challenges you face today. It seems simple to many but special to someone who can turn it into gold .“
Waktu kecil ia sering dipanggil King, bukan Sodikin atau Mamang. King bukan panggilan lumrah, tapi sederhana dan mudah diingat. Bahkan kalau mau jujur, ia tak tahu artinya. Baru 46 tahun kemudian, banyak orang sadar, termasuk keluarganya di Tasikmalaya, bahwa si Engking kecil menjadi king yang sesungguhnya. Ia adalah raja udang di negeri ini yang volume kebutuhannya bisa membuat goyangan pasokan tingkat nasional.
Pondok makan Mang Engking, yang sedang berjaya di Desa Jamur Sendangrejo, Minggir, Sleman, memang fenomenal. Hanya kurang dari 6 tahun, Mang Engking yang bukan siapa-siapa sekarang beromset miliaran rupiah. Baginya, uang tidak berseri lagi. Pondok makan yang tak pernah sepi itu merupakan sumber uang yang luar biasa.
Padahal,” ujarnya mengenang waktu itu. ”Saya lagi mengalami tantangan besar. Saya sudah ajak banyak teman untuk ikut dalam bisnis tambak udang dengan mengonversi lahan pertaniannya. Tak diduga muncul Bom Bali I yang membuat permintaan akan udang di Bali hancur total,” katanya dengan aksen Sunda yang sangat kental. ”Teman-teman meminta pertanggungjawaban saya. Saya harus menjual udang produksi mereka,” lanjutnya. Rasa tanggung jawab inilah yang membuatnya berpikir sederhana: kalau tak bisa dijual mentah, kenapa tak dijual dalam bentuk makanan?
Elis Kalimah tak menduga akan memiliki kesempatan ini. Ia meramu formula udang galah bakar madu. Singkat kata, tantangan yang disertai tanggung jawab yang besar, serta ketulusan dan kejujuran membantu rekan, menelurkan keajaiban. Ramuan sederhana segera meledak di pasaran. Mulai dari kalangan kecil. Lalu, dengan kemampuan word of mouth, melebar sampai skala yang tak mampu lagi ia tangani.
Dimulai dari bantuan Rp 600 ribu dari Pak Bupati untuk bikin satu saung, lalu Rp 1 juta tambahan untuk menjamu 40 tamu dari pemerintah daerah, ia membesar dengan cash flow yang tak kalah dari beberapa perusahaan di Bursa Efek Indonesia.
Ketika ditanya kunci sukses bisnis restonya, ia menjawab dengan semangat bak seorang resi, yang mengerti fundamental melebihi lulusan sekolah MBA yang bergelimangan teori. Ia sangat mengerti aplikasi teori Winning Concept, Winning System dan Winning Team yang diterapkan di perusahaan besar sekelas Grup Astra.
Winning concept-nya sangat kokoh. Bisnis resto udang harus menggunakan udang segar. Udang segar akan menciptakan rasa enak yang tak mungkin dikalahkan udang beku dicampur dengan ramuan mana pun. Hanya direbus dengan garam, rasa dan baunya sudah sangat ”mak nyus”, meminjam istilah Bung Bondan. Cara memasak yang lain seperti goreng, bakar dan panggang dengan tambahan madu atau kecap adalah kreativitas tambahan kecil untuk menciptakan rasa dan aroma pendamping.
Agar pasokan udang galahnya tak terinterupsi dan bergantung pada yang lain, Mang Engking mengembangkan pola tambak. Selain harganya lebih murah, juga mampu menciptakan pengusaha tambak lain yang bersifat komunitas pemasok abadi. Itu sebabnya, ia selalu mengatakan, ”Saya adalah petambak. Kesenangan saya, kalau sudah berada di tambak. Soal dapur dan uang, itu urusan Neng Elis,” katanya tentang kompetensi intinya dalam mengawaki winning concept-nya.
Kekuatan winning concept ini ditambah dengan konsep sederhana fokus pada jumlah produk yang ditawarkan. Ia hanya fokus pada kepiting dan ikan gurame dengan berbagai variasi: goreng, bakar dan rebus. Di beberapa daerah ditambah cumi karena banyaknya permintaan pelanggan. ”Orang makan di Mang Engking karena mau makan udang galah bakar madu dan kepiting saus tiram atau gurame goreng kering. Saya tidak mau menambah produk karena hanya akan menambah jumlah bahan yang harus disiapkan dan tidak menambah omset penjualan karena pelanggan terbatas kemampuan makannya,” ujarnya. Persis seperti guru pemasaran yang mengerti fokus. Segmentation, targetting dan positioning produk dikemas pas dan “mak nyus” dengan STP pelanggan.
Agar suasana tambah nyaman, ia menghadirkan kolam ikan. Atap rumbai dan kursi kayu sederhana membuat winning concept-nya semakin kental. Suasana ini yang menarik pelanggan mencoba sesuatu yang baru. Bukan berarti ia antimodernisasi. Pondok makannya di Soragan Yogyakarta ada yang bergaya kastil.
Winning system-nya tertata sangat membumi. Sistem waralaba (franchise) dikembangkan dengan konsep yang sangat sederhana. Potensi setiap daerah diukur dan ditentukan harganya. Supply chain management dari bumbu dan udang dipersiapkan seperti gaya Toyota. Just in time agar kesegaran tetap terjaga. Bukan soal resep rahasia, tapi bumbu disiapkan agar pewaralaba tinggal meramu, tidak perlu menyiapkannya karena memang bukan kompetensi mereka.
Winning team dipikirkan dengan konsep kekerabatan. Untuk pekerja luar, ia memilih calon yang sudah tak mampu bekerja di sektor lain. ”Saya tidak merekrut karyawan yang masih bisa bekerja di tempat lain. Kalau mereka sudah merasa tak mampu bersaing untuk bekerja di sektor lain, mereka diterima,” ujarnya yang membuat saya merenung.
Setelah itu, dikembangkan dengan OJT untuk menjadi karyawan frontliner yang pas dengan konsep Mang Engking. Pekerjaan dapur dan kasir diberikan kepada saudaranya – tentunya untuk gerai yang dimilikinya sendiri. Dengan winning team seperti itu, hampir tidak ada istilah turnover.
Pemberantasan korupsi tidak dilakukan dengan membentuk komisi pemberantasan korupsi yang canggih seperti fungsi internal audit di perusahaan besar, tapi dengan spiritual enforcement.
Mang Engking memang bukan guru, tapi bapak dua anak ini mampu menciptakan pengusaha tambak dengan komunitas tambaknya serta menciptakan pengusaha lain dengan waralaba yang menghasilkan return yang besar.
Ide bisnis memang tak mengenal kata terlambat atau sudah jenuh. Hanya dengan andalan udang galah, mampu menciptakan bisnis miliaran. Kepiawaian melihat peluang adalah kuncinya. Tidak juga ada kata terlambat. Mang Engking membuktikan ia mampu menjadi pengusaha piawai setelah berusia 40 tahun. Bukan juga soal sekolah dan pengalaman di lapangan, melainkan keberanian mewujudkan apa yang dilihatnya sebagai peluang. Selanjutnya, Tuhan yang menentukan.
*) Sidang pembaca SWA dan penulis buku Built to Bless.
Dimuat di Majalah SWA, Juli 2008

December 4th, 2008 at 10:05 am
memang Mang Engking fenomenal, di jogja beliau bisa ‘menghajar’ pasar, luar niasa King
March 2nd, 2009 at 12:22 pm
saya ingin belajar membuat dan mengembangkan pengelolaan usang galah….
saya mahasiswa …
May 16th, 2009 at 9:13 am
saya tertarik sekali dengan bisnis yg dilakukan oleh mang engking ini, saya berdomisili di Pekanbaru, sudah lama berniat utk melakukan bisnis sendiri dengan modal yg tidak banyak tetapi saya tidak berani mengambil suatu tindakan sampai saat saya membaca pengalaman mang engking ini, mohon kiranya pengelola web site ini merespon balik email saya agar saya bisa mendapatkan petunjuk & cara awal utk memulai bisnis tambak udang ini, perlu diketahui juga bahwa di Pekanbaru ini tidak terlalu banyak tambak udang air tawar & sangat jarang ada restoran sea food yg menyajikan menu andalan dari restoran mereka…mudah”an dengan adanya pengalaman dr mang engking ini dapat membuat saya berani mengambil satu keputusan yg tepat & bisa menjadi berkat bagi banyak orang di sekitar lingkungan saya & kota Pekanbaru pada umumnya….terimakasih…
June 15th, 2009 at 2:14 pm
Dear All, anda bisa menjadi mang engking baru karena buat saya tidak ada jenis bisnis yang sun set atau sun rise. Mas Edward dan Mas Robby bisa mulai memikirkan masakan unik yang akan menjadi pengusaha resto baru. Jangan hanya terbatas pada udang galah madu lho .. masih banyak yg lain bisa diexplore. Seperti Johny Andrean berani meluncurkan JCO menantang DunkinDonut dan Krispy Creme… Anda juga bisa….